July 27th, 2017   Berita Terbaru Add New

Wayang Ki Mantep1

Tribratanewspolresmagelang.com, Mungkid – Pentas Wayang Kulit semalam suntuk telah dipentaskan di Lapangan Drh.Soperdi Kota Mungkid, dalam rangkaian Borobudur Internasional Festifal tahun 2017.

Wayang kimantep3

Wayang kulit dengan Lakon “Wahyu Makutarama” dipentaskan oleh Dalang Kondang Ki Mantep Sudarsono dari Karanganyar Solo, dengan di hadiri oleh Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Drs. Gatot Bambang Hastowo Mpd, Kapolres Magelang di Wakili oleh Kabag Ops Kompol Ngadiso, Dandim 0705 Magelang di wakili oleh Danramil Borobudur Kapten Inf Sriyanto,  Kajari Mungkid Eko Wardoyo, SH, Plt Kadisparpora Kab Magelang Iwan Sutiarso S.Sos, MPi, Plt Kasat pol pp Kab Mgl  Imam Basori, S.Sos., M. Si,  dan Undangan kl 100 orang, serta ratusan pengembar wayang kulit di Sawitan sekitarnya.

Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Drs. Gatot Bambang Hastowo Mpd dalam pembukaan tersebut mengatakan  Acara malam ini dalam rangka rangkaian BIF yang ke 4, acara ini merupakan even internasional dalam memperkenalkan budaya jawa di kancah internasioanal

Bahwa kemajuan budaya semakin pesat, Pagelaran wayang ini merupakan apresiasi budaya leluhurun yang merupakan sebagai tuntunan ajaran perilaku umat umat manusia., katanya.

Dalam kesempatan ini mari kita lestarikan budaya dan pertahankan budaya untuk menjadi filter budaya asing, jangan smpai budaya kita hilang dengan adanya budaya asing yang masuk dari luar, dengan Harapan dilaksanakan acara malam ini menjadi tauladan bagi  pemuda/ pemudi penerus bangasa  dalam pembangunan karakter budi pekerti agar bangsa ini tidak kehilangan budaya , hidup menjadi gemah ripah loh jinawi, imbuhnya.

Sebagaimana Presiden sudah  mencanangkan bonus gemografi bahwa penduduk usia produktif ditahun 2030, Kami mengajak meningkat apresiakan terhadap budaya kita jangan sampai budaya asing mengalahkan budaya Indonesia sehingga bisa bersaing dengan budaya luar, pungkasnya.

Untuk mengawali pentas telah diserahkan kepada Ki Dalang  berupa Tokoh Wayang Arjuna dari Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Adapun sonopsis wayang dengan lakon ” wahyu makuthorama” adalah Duryodana raja Ngastina duduk di atas singgasana, dihadap oleh Baladewa raja Mandura, Basukarna, Pendeta Drona, Patih Sakuni dan beberapa pegawai kerajaan Ngastina. Mereka membicarakan wahyu yang akan turun ke dunia. Raja Duryodana ingin memperoleh wahyu itu, lalu minta agar Adipati Karna bersedia mewakili untuk mencarikannya. Adipati Karna bersedia, lalu pergi bersama Patih Sakuni dan beberapa warga Korawa meninggalkan istana. Prajurit Korawa ikut mengawal perjalanan mereka.

Kresna menjadi pertapa bernama Bagawan Kesawasidi, bertempat di pertapaan Kutharunggu. Sang Bagawan dihadap oeh Anoman, Resi Maenaka, Yaksendra dan Gajah Setubanda. Adipati Karna dan Patih Sakuni datang menghadap sang Bagawan, minta Wahyu Makutharama yang sekarang ada pada Bagawan Kesawasidi. Bagawan Kesawasidi mengaku bahwa wahyu tidak ada pada dirinya. Adipati Karna tidak percaya, maka terjadilah perselisihan. Adipati Karna menyerang, tetapi dilawan oleh Yaksendra dan Yajagwreka. Bagawan Kesawasidi tidak senang melihat pertengkaran itu, maka Resi Anoman diminta melerainya. Adipati Karna melepas panah Wijayandanu, tapi panah ditangkap oleh Resi Anoman. Panah diserahkan kepada Bagawan Kesawasidi. Adipati Karna putus asa, tidak melanjutkan perkelahian. Bagawan Kesawasidi menyalahkan sikap Anoman. Resi Anoman merasa salah, lalu minta petunjuk. Resi Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Resi Anoman kemudian kembali ke Kendhalisada.

Wayang ki Mantep2

Arjuna dan panakawan menjelma menjadi seorang begawan, dan sekarang ingin bersatu dengan Hyang Suksma Kawekas. Selama bersamadi ia mendapat petunjuk agar menemui Bagawan Kesawasidi. Bagawan Wibisana menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Ia minta penjelasan cara mempersatukan diri dengan Hyang Suksma Kawekas. Bagawan Kesawasidi keberatan untuk menjelaskannya, lalu terjadi perkelahian. Bagawan Kesawasidi dipanah Wibisana dengan panah pemberian Ramawijaya, Seketika Bagawan Kesawasidi berubah menjadi raksasa besar dan dahsyat. Bagawan Wibisana menghormat dan minta ampun. Bagawan Kesawasidi kembali ke wujud semula, lalu bersamadi. Bagawan Wibisana ikut bersamadi. Setelah selesai, Bagawan Kesawasidi minta agar Bagawan Wibisana membuka jalan untuk air suci. Bagawan Wibisana mendapat air suci, lalu akan kembali ke sorga. Di tengah perjalanan ia melihat penderitaan suksma Kumbakarna. Suksma Kumbakarna mengganggu suksma Wibisana. Maka suksma Kumbakarna disuruh mencari Wrekodara di Marcapada.

Werkodara mencari saudara-saudaranya. Di tengah jalan ia digoda oleh suksma Kumbakarna. Wrekodara marah, mengamuki Kumbakarna yang kadang-kadang tampak, kadang-kadang hilang. Akhirnya suksma Kumbakarna masuk ke betis Wrekodara sebelah kiri. Kemudian Wrekodara pun melanjutkan perjalanan.

Arjuna menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Bagawan Kesawasidi tahu bahwa Arjunalah yang pantas ditempati Wahyu Makutharama. Bagawan Kesawasidi memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Rama kepada Wibisana yang disebut asthabrata. Setelah selesai memberi wejangan dan ajaran, Bagawan Kesawasidi menyerahkan senjata Kunta kepada Arjuna. Arjuna menerima Kunta, menghormat, lalu pergi mendapatkan Karna.

Arjuna menemui Karna, menyerahkan senjata Kunta. Karna menerima senjata, kemudian berkata ingin memiliki Wahyu Makutharama. Arjuna mejelaskan makna wahyu itu, dan berkata bahwa dirinya yang memilikinya. Karna ingin merebut wahyu tersebut, maka terjadilah perkelahian di antara mereka. Karna merasa tidak mampu lalu mengundurkan diri. Arjuna kembali ke pertapaan Kutharunggu. Wrekodara telah datang menghadap Bagawan Kesawasidi. Tiba-tiba datang dua kesatria bernama Bambang Sintawaka dan Bambang Kandhihawa. Mereka ingin menaklukkan Bagawan Kesawasidi dan Arjuna. Akhirnya terjadi perang tanding. Bagawan Kesawasidi melawan Bambang Sintawaka, Arjuna melawan Bambang Kandhihawa. Bagawan Kesawasidi berubah menjadi Kresna, Bambang Sintawaka menjadi Sembadra, dan Bambang Kandihawa menjadi Srikandi.

Mereka senang dapat bertemu dan bersatu kembali, kemudian kembali ke negara, berkumpul di Ngamarta.

Selama pelaksanaan pentas telah mendapatkan pengamanan 100 prsonil dari polres Magelang dan Polsek Mungkid dipimpin oleh Kapolsek Mungkid AKP Margito, dan ketika berita ini di buat pentas masih berlangsung.

Penulis : Wahyu

  • Berita Terkait

  • Leave a Reply



  • Pejabat Teras

  • Sosial Media




  • Artikel Terbaru

  • PETA

  • HUBUNGI KAMI

    POLRES MAGELANG
    Jl. Soekarno Hatta (Jl. Letnan Tukiyat) No. 7
    Kota Mungkid Magelang.
    Polres Magelang.
    No Telepon (0293) 788787
  • STATISTIK PENGUNJUNG

    • 2
    • 336
    • 465
    • 3,289
    • 14,766